Alkisah jenggot, serta bulu membulu.
Gw masih inget akan suatu peristiwa, sangat inget bahkan. Dimana gw masih berwujud seorang anak kecil, ingusan, dan masih mulus kakinya (halah).
Kakak gw cowok satu satunya (yang satu lagi soalnya cuma setengah cowok
)
) sedang menghadap buku yang sedang dia baca di meja belajarnya kala itu. Pandangan matanya kadang kadang mengarah ke buku, terkadang pandangan itu menerawang entah kemana. Tangan kirinya sibuk membolak balik buku yang entah berisi apa. Tangan kanannya mengelus elus rambut halus yang tumbuh di janggutnya. Jenggot kata orang-orang.
Mata beloq gw mengamati kejadian fenomenal ini. Hati gw berkata “Wawwwww rambut yang hebaaaaaat, apa fungsi dari rambut itukah?”. Dengan mulut terbuka, penuh kekaguman, mata gw tak beranjak dari pemandangan (aneh) itu. Kadang-kadang mata gw semakin membesar penuh tanda tanya, disaat tangan kanan sang kakak tiba tiba mencabut satu dua helai rambut janggut itu dan menempelkannya di sisi atas meja belajarnya. Sejak saat itu, gue semakin penasaran, apakah kegunaan dari jenggot yang mengagumkan itu.
Pernah sesekali gue mengira ira kegunaan rambut wajah ini.
Suatu saat Papa pernah menggendong gw, sesaat setelah dia baru saja mencukur rambut rambut yang ada di janggutnya. Cukurannya tidak halus, tidak mulus seperti yang ada di iklan iklan pisau cukur ternama. Jenggotnya berubah menjadi sekumpulan rambut pendek sekali, tersisa menghiasi kulit putih muka papa. Dengan penuh rasa penasaran, gw sentuh barisan jenggot sisa itu. Hahaha lucu sekali waktu gw pegang
). Apakah ini salah satu kegunaan jenggot? menimbulkan sensasi aneh kala disentuh?
Rasa penasaran gw makin menggila.
Waktu pun berlalu, diiringi cicitan anak anak burung (yang tentu saja semua badannya berbulu).
Jogjakarta, suatu hari di tahun 1997.
Pagi pagi gw sudah berada di suatu kelas yang isinya anak anak ABG tanggung semua. Kelas dimana gw menyaksikan anak anak cewek lagi tergila gila sama Leonardo diCaprio gara gara film Titanic yang booming abis-abisan. Sedangkan yang cowok lagi pada demen nyanyiin lagu lagu base jam, wayang, atopun lagu lagunya potret. Kelas itu adalah kelas 1.4. Kelas di pojok atas, dekat tangga, di SMP Negeri 8 Yogyakarta.
Pubertas menyerang. Siap atau tidak anak- anak ini sedang terserang fase hidup yang cukup membingungkan. Perubahan dari bau badan tak berbau, menjadi bau ampun ampunan khas ABG. Perubahan bentuk badan dari lurus beraturan, menjadi bentuk yang khas laki-laki.. (maupun perempuan). Dan tak terkecuali, ekspansi pertumbuhan rambut di tempat-tempat yang mengagumkan.
Kala itu ada pelajaran olah raga. Dan seperti layaknya jam pelajaran olah raga di sekolah sekolah, semua siswa diminta untuk mengganti bajunya dengan seragam olah raga yang sudah ditentukan.
Gak akan gw lupakan hari itu. Hari yang aneh. Di saat gw berganti seragam di WC yang tak jauh letaknya dari kelas gw, gw menyaksikan sesuatu yang mengagumkan. (Bukaaaaaaaan….., gw bukan menyaksikan Miyabi di WC sekolah, jaman segitu Maria Ozawa juga masih SMP kali
) . Gw menyaksikan suatu tanda tanda kebesaran yang maha Kuasa, tanda pubertas yang cukup membingungkan. Gw menyaksikan adanya rambut di bagian tersembunyi yang cukup sensitif kalau gw sebutin disini rambut apa yang gw maksud :”>.
Dari titik itu, pubertas makin menggila. Hormon bermain tanpa ampun!
Bulan demi bulan berlalu. Tinggi badan gw yang amatlah kuntet disaat kelas 1, lambat laun berubah perlahan menjadi cukup tinggi di tahun2 SMP gw berikutnya. Di kelas 1, tinggi badan cowok dan cewek amatlah tidak adil. Cewek pada umumnya tingginya melebihi tinggi cowok. Bahkan ada satu cewek sekelas, yang kalo gw ngobrol sama dia, gw harus senantiasa menengadahkan kepala T_T.
Kelas 2 adalah akselerasi pubertas anak2 SMP yang paling menggila. Ada beberapa oknum yang rajin sekali membawa “Cerita Cerita Seru” (CCS) ke dalam kelas untuk dibaca sembari cekikikan di belakang kelas. Andil datangnya internet pun menjadi kambing hitam “kreativitas anak2 puber” jaman gw SMP. Terkadang selaen membawa tulisan, oknum oknum ini juga membawa gambar “pelajaran biologi” ke dalam kelas -_-;. Yang untungnya tokoh “pelajaran biologi” ini masih diimpor dari manca negara. Beda sekali sama ABG2 sekarang yang gambar pelajaran biologinya diambil dari HP berkamera teman seangkatannya yang terlalu narsis T_T.
Yang jelas tanda-tanda pubertas kala itu buat gw semakin menjelas. Suara gw berubah menjadi suara kaleng rombeng. Peningkatan gw rasain waktu gw nerima telfon. Yang dulunya biasanya selalu denger “Ibunya ada mbak?”, berubah jadi “Ibunya ada. Mas?”. Atopun waktu gw mo nyewa VCD film (normal ya normal), si mas penjaga rental menyapa ramah : “Mau minjem film apa, Mas?”. Hati gw pun berbunga2.
Tetapi ada satu dua hal yang gw amati di teman teman sebaya gw yang gw bandingkan dengan keadaan gw.
Suara : Check! sama lah udah pada ngebas.
Tinggi badan : Check! yah ga beda beda jauh laaah, termasuk tinggi malah.
Bau badan : Check! sama laaaah sama sama ancur.
Bulu ketek : CHECK!!!!!!! yoiiiiii!!
Kesukaan pada lawan jenis : CHEEECK!!!!!.
Kesukaan akan pelajaran biologi: CHECK!!!!! :”>.
Bulu kaki : TET TOOOOTTT!!!!!!!!!!! .Nihil!
Jenggot : TET TOOOT TET TOOOOOOOOOOOTTTTTT TEEEEEET TOOOOOOOOTT!!!!!!.
Pacar monyet (kan cinta monyet :”> ) : TET TOOOOOOOOOOOT TETTT TOTTTT TOOOOT TEEEET!!!!!
Gw pun terduduk lemas. Apakah yang salah dengan bagian itu di gw??
Gw mencoba mencari jawabannya dengan merenung. Kadang2 gw membiarkan kulit muka tertampar tampar kencangnya angin disaat gw memacu motor bebek warisan kakak cewek gw di ringroad utara jogja. Kadang2 gw menyendiri di lapangan basket sambil curi curi pandang ke kembang sekolah di kelas sebelah (halah!). Sering pula gw bertanya sama admin pondok putri …..eh…. diri gw sendiri. “Oh salah apakah gw? dimana rambut rambut ituuuuuu???? Gw tidak mau selamanya berkaki meja sepertii iniii…, gw tak mau selamanya tiada berjenggoooooot”.
Ratapan anak ABG memang mantab.
Jogjakarta, suatu hari di tahun 2001.
Celana pendek biru berubah menjadi celana (ketat
) panjang abu abu. Metamorfosis tubuh sudah hampir sempurna dilalui anak anak seumuran gw. Otot otot macho teman teman gw sudah mulai tampak. Tanda tanda wanita pada teman2 gw pun mulai nampak ( ada juga cowok yang dapet tanda2 ini
) ). Lemak lemak gw pun juga tiada hilang (T_T).
Suara gw makin ngebas kalo kata orang orang mah. Bau badan sudah mulai terkontrol karena sudah mulai mengenal deodoran. Masih malu malu sama lain jenis :”>. Masih tak berbulu kaki! masih tak berjenggot!
-bersambung-
April 22nd, 2009 at 11:33 pm
hiks…malah kuwalek..adakah yang aneh dengan diriku?..dari SD bulu kakinya merambat keluar2 dengan riangnya…ngantek isin ro uwong2..ijolan poh?
May 16th, 2009 at 10:07 am
wkwkwkw.. baru semalam membahas kisah cowo kaki meja, eh sekarang malah ketemu ada yang berkeluhkesah perihal “kakimeja”-nya sendiri..
bukan gimana2 ya.. tapi emang kalo cowok tanpa rambut2 dimana2 kok kesannya ga macho ya..
jadi penasaran, sambungannya pegimana..