Hari Yang Aneh
April 30th, 2008 KatrolisaHari Selasa, seperti biasa gw awali dengan yang namanya menggenggam erat hape di tangan. Masih di tempat tidur. Sambil sesekali tangan dengan sigap mematikan alarm yang berbunyi dari hape yang sengaja gw set malam hari sebelumnya untuk berdering setiap jangka waktu sepuluh menit.
Setelah mematikan alarm terakhir, gw terbangun jam 8 pagi. Kesiangan emang. Udah agak telat buat sholat subuh. Walo akhirnya gue tunaikan juga kewajiban yang satu itu.
Fuah!!! Pagi yang gak begitu dingin, dan ga juga panas. Pas buat memulai hari
.
Gue masuk kerja hari ini. Kerjaan yang gw dapet karna dikasih tau sama kolega gw, Endiyan Rakhmanda. HiWi namanya. Kerjaannya bantu bantu orang buat proyek di kantor RMCON, perusahaan pembuat software simulasi lalu lintas kereta. Satu satunya kerjaan gw selama di Jerman yang bukan terhitung kerjaan kasar. Paling enak lah pokoknya. Kadang bisa menikmati gaji buta kalo lagi ga banyak kerjaan hehehe.
Setelah kelar sikat gigi, mengagumi diri sendiri, dan menikmati secangkir kopi (minus rokok, karna habis malem sebelumnya), gue kembali memperhatikan sejenak jam tangan gw.
“Jam 9 kurang seperempat. Wuahduh Ndro, gue musti berangkat sekarang.”
Sepatu converse warna cokelat muda (yang udah jadi coklat ga jelas), yang dibeliin sama Kakak gw waktu di Indo kemarin, langsung gw samber. Bukaaan, bukan buat dimakan, tapi untuk dipakai di kaki (yaeyyalah). Pullover warna ijo pun tak lupa gw kenakan di badan.
Gw turuni anak tangga demi anak tangga bangunan Wohnung (apartemen) gw. Buat orang yang ga biasa, mungkin bisa jadi sangat melelahkan. Wohnung gw berada di lantai paling atas bangunan ini. Lantai 4, loteng lah pokoknya. Makanya bisa murah sewanya
.
Begitu keluar dari bangunan Wohnung, langsung gue susuri trotoar di pinggiran jalan Schulenburger Landstrasse sambil berlari lari kecil.
Setelah lari beberapa meter, gw menyadari rambut beruban gw agak agak basah.
Gerimis. Gerimis di pagi hari. Dengan suhu yang cukup enak. Romantis, romantis sekali. Halah.
Setelah terhenyak sekitar 1 detik, gw lanjutin lagi acara lari lari sok romantisnya. Sambil lompat lompat kecil berlari a la Alice in Wonderland. Halah, lebay dah gw.
Kemudian gue terhenti di depan sebuah kios. Ga jauh dari bangunan Wohnung gw. Gw inget, rokok telah habis, Jendral!
Dari jauh sebenernya gw udah liat, bapak penjaga kios berkebangsaan Asia (gatau deh Asianya mana) ini sedang asyik berbincang dengan satu pelanggan jermannya. Mereka terlihat menikmati kopi di luar kios.
Saat gw menghampiri kios, bapak ini dengan sigap memasuki tempat dimana dia seharusnya bekerja, yang entah gw gatau, seberapa berartinya Kios ini buat kelangsungan hidupnya.
“Ein mal Marlboro Menthol, bitte” ( Tolong satu marlboro menthol ), cerocos gw sesaat setelah bapak itu standby di jendela kios.
Gw ambil beberapa receh koin cent di dompet, sambil sesekali menghitung dan memastikan uang yang akan berpindah tangan ke bapak Asia itu.
Uang berpindah tangan. Gw menyambar bungkus rokok yang ia ulungkan. Sesaat setelah gw mengucapkan terima kasih, gw kembali berlari. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya.
Sambil berlari gw membuka bungkus rokok pelan-pelan. Gw ambil satu batang. Ingin langsung gw idupin. Tapi gw urungkan. Gw harus ngejar bus, bos!
Langkah gw semakin cepat. Sesekali gw menyadari nafas gw tersengal sengal. Dada terasa sakit karna over larinya. Sambil misuh misuh dalam hati, gw menyalahkan kebiasaan relatif baru gw : Merokok.
Agustus 2007. Entah kenapa di bulan itu gue jadi perokok. Gue yang dulu sangat anti terhadap asap rokok.
-bersambung ah-